Melintasi jalan berbatu lepas (gravel) adalah ujian terberat bagi sistem suspensi kendaraan, karena permukaan yang tidak stabil menciptakan guncangan konstan yang mengganggu traksi dan kenyamanan. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah bagaimana setting peredam kejut yang optimal harus dilakukan agar kendaraan tetap stabil dan bantingan tidak terlalu keras atau justru ambrol saat melewati medan berbatu yang ekstrem. Penelitian terbaru dari IMI menunjukkan bahwa pengaturan peredam kejut yang ideal untuk jalan berbatu lepas adalah keseimbangan antara pengaturan kompresi (saat roda bergerak ke atas) dan rebound (saat roda kembali ke bawah), dengan penekanan pada rebound yang sedikit lebih cepat untuk memastikan ban segera kembali menyentuh tanah setelah melewati batu. Melalui optimalisasi pengaturan peredam, terungkap bahwa pengaturan yang terlalu keras akan membuat kendaraan melompat-lompat dan kehilangan kontak, sementara yang terlalu lunak akan membuat bodi terasa “mengambang” dan sulit dikendalikan.
Pada medan berbatu, roda secara konstan dipaksa bergerak naik-turun dengan frekuensi tinggi. Peredam kejut bertugas mengontrol gerakan pegas agar tidak berosilasi terlalu lama. Jika setting rebound terlalu lambat, ban akan tetap menggantung di udara saat roda sudah melewati batu, sehingga traksi hilang untuk waktu yang singkat namun kritis. Jika rebound terlalu cepat, kendaraan akan terasa sangat keras dan memantul, menyebabkan kelelahan pada pengemudi dan komponen. Penelitian ini mengukur stabilitas jalan berbatu dengan memasang sensor percepatan dan stroke pada suspensi dari 4 jenis kendaraan SUV dan pick-up, yang diuji di lintasan gravel dengan kecepatan 40-70 km/jam. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaturan rebound yang 20-30% lebih cepat dari setting standar jalan aspal memberikan traksi terbaik pada gravel.
Salah satu temuan penting adalah bahwa variasi berat muatan kendaraan sangat memengaruhi setting ideal. Kendaraan yang membawa beban berat membutuhkan kompresi yang lebih keras untuk mencegah suspensi “bottoming out”, tetapi rebound harus tetap responsif. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh peredam kejut pada medan off-road sangat kontekstual dan tidak ada pengaturan yang berlaku universal. Temuan ini mendorong IMI untuk mengedukasi penggemar off-road tentang cara menyesuaikan pengaturan peredam kejut berdasarkan berat muatan, kecepatan yang diinginkan, dan kondisi medan spesifik, serta pentingnya shock absorber dengan fitur adjustable yang memungkinkan penyesuaian cepat.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti sinergi antara peredam kejut dengan tekanan angin ban. Ban dengan tekanan yang tepat akan bekerja sama dengan suspensi untuk menyerap guncangan dan menjaga stabilitas. Dengan memahami setting suspensi gravel, setiap pengendara dapat menikmati perjalanan di jalan berbatu dengan lebih nyaman dan aman, mengurangi risiko kehilangan kendali yang dapat berakibat fatal. Pada akhirnya, pengaturan peredam kejut yang optimal adalah seni yang memerlukan pemahaman tentang dinamika kendaraan dan kemampuan untuk membaca medan, menjadikannya keterampilan yang sangat berharga bagi setiap petualang off-road.
