Ketika seorang pembalap memacu motor dalam kecepatan tinggi selama puluhan lap, detak jantung akan meningkat drastis menuju zona merah. Dalam kondisi ini, secara alami manusia cenderung melakukan pernapasan pendek dan cepat melalui mulut. Namun, bagi atlet di bawah naungan IMI, teknik ini dianggap tidak efisien karena hanya mengisi bagian atas paru-paru. Cara mengatur pernapasan yang benar adalah dengan menggunakan pernapasan diafragma atau perut. Dengan menarik napas dalam melalui hidung dan mengeluarkannya secara terkontrol, oksigen yang masuk ke aliran darah menjadi lebih maksimal, yang secara langsung berdampak pada fungsi otak untuk tetap jernih saat mengambil keputusan di tikungan tajam.
Kaitan antara oksigen dan konsentrasi sangatlah erat. Saat tubuh mengalami defisit oksigen akibat pernapasan yang tidak teratur, otot akan cepat mengalami penumpukan asam laktat, dan otak akan mulai mengalami penurunan kecepatan reaksi. Di tengah panasnya aspal Sumatera Utara, seorang pembalap yang tidak mampu mengontrol napasnya akan lebih mudah merasa panik dan melakukan kesalahan klerikal seperti terlambat melakukan pengereman. Oleh karena itu, balapan jarak jauh menuntut ketenangan mental yang dimulai dari hembusan napas yang ritmis, mengikuti irama putaran mesin dan gerakan tubuh di atas motor.
Selain menjaga fokus, pernapasan yang benar juga berfungsi sebagai penstabil otot inti atau core. Saat melakukan manuver leaning atau miring di tikungan, otot-otot tubuh bagian tengah bekerja sangat keras. Dengan teknik pernapasan yang sinkron, tekanan intra-abdominal dapat terjaga, sehingga tulang belakang mendapatkan dukungan tambahan. Para instruktur di Sumut sering mengajarkan latihan meditasi dan pernapasan khusus sebelum balapan dimulai untuk menurunkan tingkat kecemasan (anxiety) yang sering kali membuat napas menjadi sesak saat berada di garis start.
Faktor lingkungan di Sumatera Utara yang cenderung lembap dan panas memberikan tantangan ekstra bagi sistem respirasi. Keringat yang berlebih dapat menyebabkan dehidrasi yang membuat darah mengental, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mengedarkan oksigen. Dalam kondisi balapan, mengatur ritme napas membantu menurunkan suhu inti tubuh secara internal. Pembalap diajarkan untuk menarik napas panjang saat berada di trek lurus (straight) guna memberikan suplai oksigen tambahan bagi otot yang baru saja bekerja keras di area teknis yang berliku.
