Setiap mesin pembakaran internal (ICE) dirancang agar campuran udara dan bahan bakar terbakar secara terkontrol oleh percikan busi pada waktu yang tepat. Namun, terkadang, terjadi pembakaran abnormal yang menghasilkan suara dentingan keras, yang dikenal sebagai engine knocking atau detonation. Fenomena Engine Knocking ini adalah kondisi di mana campuran udara-bahan bakar di ruang bakar menyala sendiri (self-ignite) sebelum percikan busi terjadi, atau setelah percikan busi terjadi, gelombang tekanan kedua terbentuk dan bertabrakan dengan gelombang tekanan pembakaran utama. Jika dibiarkan berlarut-larut, Fenomena Engine Knocking dapat menyebabkan kerusakan serius pada komponen internal mesin, seperti piston dan katup.
Penyebab utama dari Fenomena Engine Knocking adalah penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan (RON) yang lebih rendah dari yang disyaratkan oleh pabrikan. Angka oktan menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menahan kompresi tanpa menyala spontan. Mesin modern dengan rasio kompresi tinggi (misalnya, di atas 10:1) memerlukan bahan bakar dengan oktan tinggi. Faktor lain yang berkontribusi adalah panas berlebih (overheating) pada mesin, penumpukan kerak karbon di ruang bakar (yang menciptakan titik panas), atau pengaturan waktu pengapian (ignition timing) yang terlalu maju. Peningkatan suhu dan tekanan di dalam silinder meningkatkan kecenderungan campuran bahan bakar untuk menyala sendiri, memicu knocking.
Dampak knocking pada mesin sangat merusak. Suara dentingan yang terdengar adalah hasil dari gelombang kejut yang berulang kali menghantam komponen, memberikan beban mekanis yang luar biasa pada piston head dan connecting rod. Dalam jangka pendek, knocking mengurangi efisiensi dan tenaga mesin. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan piston ring retak, bantalan (bearing) aus sebelum waktunya, atau bahkan pecahnya piston itu sendiri. Tim analis teknis dari sebuah lembaga pengujian kendaraan mencatat pada hari Jumat, 29 September 2023, bahwa kerusakan mesin yang diakibatkan knocking yang parah sering memerlukan penggantian cylinder head dan blok mesin, dengan biaya perbaikan yang sangat mahal.
Untuk mengantisipasi dan mengatasi Fenomena Engine Knocking, mesin modern mengandalkan teknologi canggih. Hampir semua mobil baru dilengkapi dengan Knock Sensor (Sensor Ketukan) yang dipasang pada blok mesin. Sensor ini mendeteksi getaran dan frekuensi yang dihasilkan oleh knocking. Ketika sensor mendeteksi ketukan, Engine Control Unit (ECU) secara otomatis akan melakukan penyesuaian real-time, seperti memundurkan (retard) waktu pengapian atau menyesuaikan injeksi bahan bakar, untuk meredam pembakaran abnormal. Tindakan korektif otomatis ini memungkinkan mesin untuk tetap beroperasi dengan aman bahkan ketika pengemudi secara tidak sengaja menggunakan bahan bakar yang salah, melindungi mesin dari kerusakan dini yang fatal.
