Industri otomotif Indonesia menaruh harapan besar pada pemerintahan baru untuk menghadirkan kebijakan positif dan berbagai kemudahan yang dapat mendongkrak kembali performa sektor ini. Di tengah proyeksi penurunan penjualan mobil pada tahun 2024, para pelaku industri seperti Hyundai Motors Indonesia (HMID) mengusulkan dukungan komprehensif yang tidak hanya terfokus pada segmen kendaraan tertentu, tetapi juga meliputi seluruh jenis kendaraan. Harapan ini mencerminkan kebutuhan akan stimulasi pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.
Chief Marketing Officer HMID, Budi Nur Mukmin, menyampaikan bahwa kebijakan positif dari pemerintah baru akan sangat krusial bagi keberlangsungan dan pertumbuhan industri otomotif. Meskipun belum ada rincian spesifik mengenai bentuk kemudahan yang diharapkan, sinyal dari industri jelas: mereka membutuhkan regulasi yang mendukung investasi, produksi, dan daya beli masyarakat. Ini mencakup potensi insentif fiskal, keringanan pajak, atau kemudahan dalam proses perizinan yang dapat mengurangi beban operasional dan harga jual kendaraan. Hal ini juga selaras dengan diskusi antara Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) dengan Kementerian Perindustrian pada Januari 2025 mengenai arah kebijakan otomotif ke depan.
Saat ini, pemerintah memang telah memberikan kebijakan positif berupa insentif untuk kendaraan listrik, seperti pengurangan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan insentif fiskal lainnya. Kendaraan listrik juga menikmati keringanan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan bebas dari aturan ganjil-genap. Namun, dengan proyeksi penjualan mobil nasional yang diperkirakan hanya mencapai 850.000 unit pada tahun 2024 (turun dari 1 juta unit pada 2023), ada indikasi bahwa insentif yang ada perlu diperluas cakupannya untuk menciptakan dampak yang lebih signifikan terhadap keseluruhan pasar otomotif.
Industri kendaraan, termasuk merek otomotif global yang telah berinvestasi besar di Indonesia, sangat bergantung pada stabilitas dan dukungan regulasi. Kebijakan positif yang komprehensif dari pemerintahan baru diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang lebih menarik, mendorong produksi dalam negeri, serta meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia di pasar domestik maupun global. Ini akan menjadi pilar penting untuk menjaga keberlangsungan ribuan lapangan kerja yang bergantung pada sektor ini.
Pada akhirnya, harapan akan kebijakan positif dan kemudahan dari rezim baru adalah cerminan dari kebutuhan industri otomotif yang adaptif terhadap kondisi pasar. Dengan langkah-langkah yang tepat, pemerintah dapat kembali membangkitkan gairah pasar otomotif, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memastikan Indonesia tetap menjadi pemain kunci di peta industri otomotif regional dan global.
