Dunia otomotif di Sumatera Utara, khususnya di kota Medan, sedang mengalami gairah yang sangat luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu cabang olahraga yang paling menyita perhatian adalah seni mengendalikan mobil dalam kondisi slip yang terkontrol atau yang lebih dikenal dengan drifting. Kehadiran Komunitas Drifting di kota ini bukan sekadar kumpulan pemilik mobil mewah yang ingin pamer, melainkan wadah bagi para antusias teknik berkendara tingkat tinggi untuk mengasah kemampuan mereka di lintasan aspal. Namun, seiring dengan meningkatnya popularitas olahraga ini, muncul sebuah fenomena ekonomi mikro yang cukup unik di kalangan para pelakunya.
Drifting adalah olahraga yang sangat menguras sumber daya, terutama pada bagian kaki-kaki kendaraan. Bagi para pegiat di Medan, aktivitas latihan yang dilakukan hampir setiap akhir pekan menuntut konsumsi komponen tertentu dalam jumlah yang sangat besar. Ban adalah komponen utama yang paling cepat habis karena gesekan panas yang ekstrem saat mobil melakukan manuver menyamping. Dalam satu sesi latihan intensif, seorang drifter bisa menghabiskan dua hingga empat set ban sekaligus. Kebutuhan yang masif inilah yang kemudian memicu perubahan dinamika pasar pada barang-barang pendukung hobi tersebut, khususnya pada ketersediaan stok di tingkat pengepul lokal.
Pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat awam adalah, Mengapa Ban Bekas yang dahulu dianggap sebagai limbah tak bernilai, kini menjadi komoditas yang sangat dicari? Jawabannya terletak pada strategi efisiensi biaya yang dilakukan oleh para pebalap. Membeli ban baru setiap kali latihan tentu akan menghabiskan anggaran yang sangat besar. Oleh karena itu, para drifter beralih mencari ban dengan kondisi tapak yang masih layak sekitar 40 hingga 60 persen. Ban-ban ini biasanya didapatkan dari toko-toko ban besar yang menerima tukar tambah atau dari gudang-gudang penumpukan limbah otomotif di sekitar wilayah Sumatera Utara.
Namun, hukum permintaan dan penawaran berlaku dengan sangat ketat di sini. Karena jumlah drifter yang semakin banyak, sementara pasokan ban dengan ukuran tertentu (biasanya ring 15 hingga 18 dengan profil tipis) tetap terbatas, maka secara otomatis Kini Harganya mulai merangkak naik. Para pedagang ban bekas yang jeli melihat peluang ini mulai melakukan penyortiran lebih ketat.
